Lima mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Pancasila menciptakan tabir surya alami bernama Sunava. Mereka mengolah limbah kulit pisang ambon (Musa Ă— paradisiaca L.) menjadi emulgel pelindung sinar ultraviolet. Kulit pisang ambon mengandung senyawa flavonoid.
Riset ini berjalan lewat skema Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE). Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendanai riset ini pada 2026. Riset ini mendukung target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) untuk kesehatan yang baik dan konsumsi yang bertanggung jawab.
Devi Auliyah memimpin tim peneliti. Dhafina Dharmawan, Diah Ayu Kusuma, Dinda Aulia Putri, dan Dimas Adiatma Putra menjadi anggota tim. Apt. Yuslia Noviani, S.Farm., M.Farm. membimbing penelitian ini. “Kami ingin menghadirkan solusi tabir surya yang aman, alami, dan ramah lingkungan, sekaligus memberi nilai tambah pada limbah kulit pisang,” kata Devi Auliyah, ketua tim peneliti.

Riset ini bermula dari persoalan tabir surya kimia. Tabir surya menjadi kebutuhan dasar di Indonesia untuk mencegah penuaan dini dan kanker kulit. Namun, sejumlah bahan aktif seperti avobenzone, octinoxate, dan oxybenzone dapat mengiritasi kulit dan merusak terumbu karang. Sejumlah kajian internasional mencatat oxybenzone dan octinoxate memicu pemutihan karang dan mengganggu sistem hormonal karang. Hawaii, Key West, dan Palau telah melarang peredaran tabir surya berbahan itu. Indonesia berada di kawasan Coral Triangle, sehingga alternatif tabir surya ramah lingkungan makin dibutuhkan.
Dari persoalan itu, tim membidik limbah kulit pisang sebagai bahan baku. Kulit pisang ambon mengandung senyawa fenolik, flavonoid, karotenoid, dan galokatekin. Senyawa ini berpotensi bekerja sebagai tabir surya alami sekaligus memberi efek antioksidan dan pelembap. Tim mengekstraksi kulit pisang lewat metode maserasi dengan pelarut etanol 70 persen, lalu memformulasikan ekstrak itu menjadi emulgel tipe minyak-dalam-air.
Tim kemudian menguji emulgel dalam empat konsentrasi, yaitu 5, 10, 15, dan 20 persen. Kadar flavonoid total ekstrak mencapai 90,9068 mg QE/g. Seluruh formula memenuhi standar fisik SNI 16-4399. Formula 20 persen mencapai nilai SPF tertinggi, yaitu 15, sedangkan formula 15 persen paling disukai panelis dengan tingkat kesukaan 47,6 persen. Semua formula tetap stabil setelah enam siklus cycling test.
Capaian ini mendapat apresiasi dari pimpinan fakultas. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Prof. Dr. apt. Dian Ratih Laksmitawati, M.Biomed., menyebut inovasi ini sebagai kontribusi nyata ilmu kefarmasian. “Riset ini menunjukkan bagaimana ilmu kefarmasian menjawab persoalan nyata di masyarakat, dari kesehatan kulit hingga keberlanjutan lingkungan,” ujarnya. Ketua Program Studi Sarjana Farmasi, Prof. Dr. apt. Esti Mumpuni, M.Si., menambahkan bahwa PKM menjadi wadah strategis bagi mahasiswa untuk mengembangkan pola pikir ilmiah dan menghasilkan karya berdampak nyata.
Selain apresiasi institusi, inovasi Sunava telah meraih Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa poster. Artikel ilmiahnya kini menjalani proses review di Journal of Faculty of Pharmacy of Ankara University, Turki, jurnal yang terindeks Scopus Q3. Tim mendokumentasikan riset ini lewat akun @sunava_product di Instagram, TikTok, dan YouTube.


